Definition List

header ads

Inilah Daftar Fenomena Astronomi Sepanjang Bulan Oktober 2015



5 Oktober 2015: Bulan di Fase Separuh Kedua (Last Quarter)
Pada 5 Oktober 2015, tepatnya pukul 4:07 WIB, Bulan memasuki fase Separuh Kedua (Last Quarter). Ia akan nampak separuh, tentu saja, dan bisa dilihat sejak terbitnya pukul 23:47 waktu lokal atau sekitar 5 jam 48 menit setelah Matahari terbenam tanggal 4 Oktober 2015.

9-10 Oktober 2015: Konjungsi Bulan dengan Venus, Mars dan Jupiter
Ingin melihat tiga planet tata surya (Venus, Mars dan Jupiter) yang bersebelahan di langit dengan Bulan sekaligus? Inilah saat yang tepat! Keempat objek alam semesta tersebut akan sangat photogenic untuk Anda potret.

Pada 9 Oktober 2015, Bulan akan sedikit lebih dekat kedudukannya dengan Venus ketimbang dengan Mars dan Jupiter. Bulan dan Venus hanya akan terpisah 0°39' di langit. Sementara itu, keesokan hari (10/10), Bulan akan lebih dekat kedudukannya dengan Mars, sekitar 3°16'. Jupiter akan berada di sebelah Selatan Mars.

Peristiwa ini dapat diamati dengan mata telanjang di seluruh Indonesia sekitar satu jam sebelum Matahari terbit di langit Timur. Pastikan langit cerah saat pengamatan.

12 Oktober 2015: Oposisi Uranus
Uranus akan berada di titik yang bagus untuk diobservasi, planet gas raksasa ini akan bertengger di konstelasi Pisces. Ia akan terlihat sepanjang malam, dan mencapai titik tertinggi di langit pada sekitar tengah malam waktu lokal daerah Anda.

Oposisi adalah peristiwa di mana planet-planet tata surya berada di titik terdekat dengan Bumi. Namun, walau berada di oposisi, Uranus akan sangat sulit diamati dengan mata telanjang, bahkan dengan teleskop. Ini disebabkan Uranus terlalu redup karena berada jauh dari Matahari.


Dari Indonesia, Uranus akan terlihat mulai 19:07 sampai 4:11 (13/10) waktu lokal daerah Anda. Uranus akan mencapai titik tertinggi di langit pukul 23:37 waktu lokal, sekitar 77° di atas cakrawala Utara daerah Anda.

13 Oktober 2015: Fase Bulan Baru (New Moon)
Bulan akan berada di antara Matahari dan Bumi pada 13 Oktober 2015 pukul 7:07 WIB. Ia takkan terlihat atau "hilang" dalam silau Matahari selama beberapa hari. Gerakan orbital Bulan membawanya mengelilingi Bumi sekali setiap 4 pekan, akibatnya terjadi fase-fase Bulan dari Bulan Baru, Separuh Awal, Bulan Purnama dan Separuh Kedua, lalu kembali ke Bulan Baru sekali setiap 29,5 hari.

Pada fase Bulan Baru ini, kedudukan Bumi, Bulan dan Matahari terletak pada garis lurus (yang tidak benar-benar lurus) di bidang tata surya. Dalam konfigurasi ini, kita tidak bisa melihat Bulan karena sedang 'membelakangi' Bumi. Selama beberapa hari mendatang setelah fase Bulan Baru, Bulan akan terlihat di langit sore hingga senja sebagai Bulan Sabit.

Fase Bulan Baru ini menandai Tahun Baru Hijriyah 1436 H menjadi 1437 H. Selamat datang bulan Muharram!

16 Oktober 2015: Merkurius di Elongasi Tertinggi
Inilah saat yang tepat untuk observasi Planet Merkurius, planet terdekat Matahari kita. Merkurius bersinar terang di magnitudo -2,6 di langit Timur saat sebelum Matahari terbit.


Dari Indonesia, sayangnya akan sulit untuk mengamati Merkurius karena ia akan muncul tidak lebih tinggi dari 10° di atas cakrawala. Tapi jika Anda penasaran, Merkurius akan terbit pada 04:30 waktu lokal, atau 1 jam sebelum Matahari terbit, dan mencapai ketinggian 10° dari ufuk Timur sekitar pukul 05:16 waktu lokal.

16 Oktober 2015: Konjungsi Bulan dengan Planet Saturnus
Bulan dan Saturnus akan terlihat bersebelahan dan hanya terpisah 2°54' satu sama lain di langit Barat saat senja pada 16 Oktober 2015. Dari Indonesia, keduanya akan terlihat mulai pukul 17:59 waktu lokal, mereka akan bertengger 34° di atas ufuk Barat daerah Anda. Mereka kemudian akan terbenam sekitar 2 jam 42 menit setelah Matahari terbenam atau sekitar 20:27 waktu lokal.

Pada saat konjungsi, Bulan akan berada di magnitudo -10,2 di konstelasi Scorpius, dan Saturnus bersinar di magnitudo 1.2 di konstelasi Libra. Keduanya cukup terang untuk diamati dengan mata telanjang. Pastikan langit cerah saat pengamatan.

21 Oktober 2015: Hujan Meteor Orionid
Hujan Meteor Orionid akan mencapai tingkat maksimum aktivitasnya pada malam hari tanggal 21 Oktober 2015. Namun beberapa meteor Orionid sudah bisa dilihat mulai 16 Oktober hingga tanggal 30 Oktober. Dipredisiksi akan mencapai intensitas 25 meteor per jam (ZHR).

Kemunculan meteor pada hujan meteor Orionid akan terlihat di sekitar rasi bintang Orion. Pada tengah malam, rasi bintang Orion akan tampak pada ketinggian 27° di atas ufuk Timur daerah Anda. Semua meteor akan tampak muncul langsung dari titik radian ini.


Tempat terbaik untuk melihat hujan meteor Orionid adalah di wilayah yang langitnya bebas polusi udara maupun cahaya, seperti di pegunungan atau pantai. Dari perkotaan, peristiwa ini masih tetap bisa dinikmati, tapi sayangnya intensitas meteor mungkin akan lebih sedikit. Peristiwa hujan meteor Orionid bisa dilihat di seluruh Indonesia dan wajib diamati dengan mata telanjang.

26 Oktober 2015: Konjungsi Venus dengan Jupiter
Planet Venus dan Planet Jupiter akan terlihat bersebelahan di langit, mereka bahkan hanya akan terpisah 1°01' satu sama lain. Dari Indonesia, keduanya akan terlihat di langit fajar. Mereka akan terbit pada 02:44 waktu lokal atau 2 jam 43 menit sebelum Matahari terbit.

Venus dan Jupiter akan mencapai ketinggian 35° di atas ufuk Timur sebelum terbit fajar sekitar pukul 05:13 waktu lokal. Pada saat konjungsi, Venus akan bersinar di magnitudo -5,1, dan Jupiter di magnitudo -1,8 di konstelasi Leo.

26 Oktober 2015: Bulan Purnama
Bulan akan mencapai fase Bulan Purnama (Full Moon) pada 26 Oktober 2015 pukul 20:02 WIB. Untuk mengamati Bulan Purnama, cukup cari Bulan di langit Timur sekitar satu jam setelah Matahari terbenam. Bulan akan bergerak semu ke Barat hingga keesokan pagi.

Nah, itulah jadwal peristiwa astronomis sepanjang Oktober 2015. Mana yang paling Anda tunggu?

Posting Komentar

0 Komentar