Definition List

header ads

Pencarian 'Planet Kesembilan' di Tepi Tata Surya



Planet Kesembilan, alias Planet IX, telah diumumkan keberadaannya di tepi Tata Surya kita bulan Januari lalu. Planet yang belum memiliki nama resmi ini memiliki massa sekitar 10 kali massa Bumi. Planet ini juga hingga saat ini belum memiliki bukti optik. Bagaimana kelanjutan pencariannya?

Planet Kesembilan ini dijuluki Bumi-Super, dan juga dikenal sebagai Neptunus-Mini, karena planet ini mungkin mengandung gas atau merupakan planet berbatu. Planet-planet seperti ini memang paling umum di Bima Sakti. Ratusan dari jenis planet seperti ini telah terlihat dan ditemukan di sistem tata bintang lain selama dua dekade terakhir.

Dan bulan lalu, Konstantin Batygin dan Michael Brown, astrofisikawan di California Institute of Technology, mengatakan mereka menemukan bukti yang meyakinkan untuk keberadaan Bumi-Super ini di tepi Tata Surya.

Diperkirakan Merupakan Planet Raksasa

"Para astronom biasanya berbicara tentang bagaimana jenis planet yang paling umum di alam semesta, yakni yang memiliki ukuran dua sampai tiga kali ukuran Bumi, dan jenis planet tersebut tidak ditemukan di Tata Surya kita, namun sekarang kita mungkin memilikinya satu," kata Sara Seager di Massachusetts Institute Technology. "Ini keren."

Tetapi bahkan jika benar-benar ada Bumi-Super di tepi Tata Surya kita, hal tersebut masih terasa cukup aneh. "Bahkan jika Planet Kesembilan membawa kita sedikit lebih dekat dengan katalog planet se-galaksi, Tata Surya kita tetap seperti 'benda asing' di alam semesta," kata Batygin, yang mengganggap keberadaan Bumi-Super bukan suatu hal yang spesial karena di tata bintang lain juga ada planet jenis ini.

Jupiter Adalah Pelakunya

Simulasi Tata Surya ketika masih muda menunjukkan bahwa awal pembentukan Jupiter mungkin mencegah pembentukan Bumi-Super terjadi di Tata Surya kita. Tapi simulasi para astronom juga menunjukkan bahwa Bumi-Super tidak bisa terbentuk pada jarak sejauh Planet Kesembilan diperkirakan berada saat ini. Tidak ada cukup material di tepi Tata Surya untuk membentuk planet raksasa.

Jadi bagaimana Planet Kesembilan bisa ada, sementara tidak ada cukup material di luar sana?

Jawabannya ada pada masa-masa awal dari Tata Surya kita, ketika lingkungan Tata Surya kita sangat berbeda dari lingkungan saat ini, yakni ketika Tata Surya masih berbahaya dan kacau. "Kita tahu proses pembentukan planet tidak mulus begitu saja," kata Batygin. "Ada urutan pembentukan yang sangat kacau."

Menurut para astronom, planet-planet yang terbentuk di Tata Surya awal bisa terlempar ke sana ke mari akibat tarikan gravitasinya dengan gravitasi planet-planet dan benda-benda langit lain saat terbentuk, kadang-kadang bisa bertabrakan juga, seperti dalam proses yang diperkirakan telah membentuk Bulan.

Planet Kesembilan adalah "inti dari planet raksasa, yang telah terbentuk di masa-masa awal Tata Surya, namun terlempar dari Tata Surya bagian dalam ke tepi Tata Surya," kata Batygin. Siapa yang bertanggung jawab atas terlemparnya Planet Kesembilan ini? Menurut simulasi para astronom, jawabannya adalah; Jupiter!

"Kita tahu bahwa Uranus dan Neptunus mungkin memiliki tahap akhir pembentukannya yang sangat keras," kata Sean Raymond dari Bordeaux Observatory di Perancis. Dua planet raksasa es tersebut pada dasarnya terbentuk bersama-sama melalui serangkaian tabrakan. Tahun lalu ia dan rekan-rekannya membuat simulasi untuk proses ini dan menemukan bahwa planet-planet yang memiliki lima kali massa Bumi terlah terlontar dari Tata Surya bagian dalam saat proses pembentukannya.


Ilustrasi orbit Planet Kesembilan di tepi Tata Surya


Obyek Teoretis atau Objek Nyata?

Beberapa astronom percaya, Planet Kesembilan mungkin tidak pernah ada. Sementara Batygin dan Brown telah menunjukkan bukti kuat untuk keberadaan Planet Kesembilan dengan mempelajari orbit yang tidak biasa dari enam obyek Tata Surya yang jauh yang disebut Obyek Sabuk Kuiper (OSK).

"Saya telah memrediksi bahwa akan banyak orang-orang yang ragu akan penemuan kami," kata Brown. "Namun saya dan rekan saya meyakinkan diri sendiri secara statistik bahwa Planet Kesembilan ini benar adanya."

Berdasarkan penghitungan Batygin dan Brown, benda antariksa yang diduga sebagai Planet Kesembilan ini mengorbit 20 kali lebih jauh jika dibandingkan dengan planet terluar di sistem Tata Surya kita, Neptunus. Adapun jarak Neptunus ke Matahari sekitar 4,5 miliar kilometer.

Namun tidak seperti jalur terdekat yang melingkari planet-planet utama, Planet Kesembilan ini berada di lintasan sangat elips. Diperkirakan Planet Kesembilan butuh waktu 10-20 ribu tahun untuk mengelilingi Matahari.

Batygin dan Brown telah menganalisis pergerakan sejumlah Obyek Sabuk Kuiper, khususnya dua obyek yang lebih besar dikenal sebagai Sedna dan 2012 VP113. Tatanan ini, kata mereka, dijelaskan dengan keberadaan sebuah planet besar yang sampai sekarang tak dikenal.

Menurut Brown, benda-benda yang paling jauh semuanya bergerak dalam satu arah dengan cara yang sangat aneh yang seharusnya tidak terjadi. Dia mengatakan satu-satunya cara agar bisa melihat planet-planet bergerak dalam satu arah adalah jika ada sebuah planet besar, yang juga sangat jauh letaknya dalam sistem Tata Surya, tengah menjaga posisi mereka di tempatnya sewaktu mengelilingi Matahari.

"Bola Lampu di Bulan"

Planet Kesembilan hingga saat ini belum dikonfirmasi keberadaannya, karena terlalu redup untuk memantulkan cahaya Matahari yang diterimanya pada jarak orbit yang sangat jauh tersebut. Bahkan Pluto yang relatif lebih dekat dengan Bumi dibanding Planet Kesembilan pun sangat sulit diamati.

"Menemukan Planet Kesembilan ini adalah seperti menemukan bola lampu di Bulan," kata Batygin. "Tapi perhitungan kami telah menyediakan peta untuk mencari obyek yang sangat redup di langit ini. Mudah-mudahan, perhitungan kami ini akan memicu perburuan Planet Kesembilan."

Pencarian Planet Kesembilan saat ini masih dilakukan, bahkan ada rencana untuk mengirim wahana antariksa ke sana suatu hari nanti.

Posting Komentar

0 Komentar