Definition List

header ads

Studi Baru : Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat Dari Yang Diperkirakan

Alam semesta. Kredit: NASA/ESA/Hubble


Alam semesta terbukti terus mengembang semakin cepat dengan akselerasi konstan. Sejak lama diketahui bahwa alam semesta terus mengembang, namun baru-baru ini diketahui mengembangnya alam semesta lebih cepat dari yang diperkirakan.

Para astrofisikawan juga memperkirakan, pengembangan alam semesta terus mengalami akselerasi, digerakkan oleh apa yang disebut energi gelap dan materi gelap. Namun hingga kini belum diketahui secara rinci apa energi gelap ini. Berdasarkan perhitungan, diperkirakan energi gelap dan materi gelap ini volumenya sekitar 75 persen dari massa alam semesta.

"Para ilmuwan sejak seabad lalu meyakini, alam semesta terus mengembang. Hal itu merupakan konsekuensi dari dentuman besar yang terjadi 14 milyar tahun lalu. Tapi sejauh ini belum diyakini sepenuhnya bahwa pengembangannya juga terus dipercepat," kata Lars Brink dari Komite Nobel di Stockholm.

Hal ini terungkap lewat sebuah studi baru yang diunggah ke server arXiv, studi yang mengukur pengembangan alam semesta. Menurut studi tersebut, tampaknya alam semesta telah mengembang 8 persen lebih cepat dari yang diperkirakan.

"Saya berpikir bahwa ada sesuatu dalam model kosmologi standar yang kita tidak mengerti saat ini," kata Adam Riess, astrofisikawan di Johns Hopkins University, satu dari beberapa penemu energi gelap, dan penulis utama studi baru ini, seperti dikutip dari jurnal Nature.

Menurut penelitian, alam semesta berkembang pada kecepatan 73 kilometer per detik per megaparsek, bukan seperti perhitungan sebelumnya yang menyatakan 67,3 kilometer per detik per megaparsek. Sekadar informasi bagi Anda, 1 megaparsek sama dengan 3,26 juta tahun cahaya, 1 tahun cahaya sama dengan 9,4 triliun kilometer.

Para astrofisikawan ini menyimpulkan mengembangnya alam semesta semakin cepat, setelah mengamati supernova atau ledakan bintang yang terjadi jauh di "ujung" alam semesta dalam sebuah riset baru-baru ini.

Hasil riset terhadap lebih dari 50 supernova amat jauh menunjukkan, emisi cahaya yang dipancarkannya lebih lemah dari yang diperhitungkan. Hal itu membuktikan bahwa pengembangan alam semesta berlangsung dalam percepatan atau akselerasi yang juga terjadi terus menerus.

Dengan meneliti emisi cahaya dari supernova yang melemah, selanjutnya para astrofisikawan ini membandingkan perubahan kecerahan supernova tadi dengan luminositasnya. Dengan begitu, para astrofisikawan bisa mengetahui seberapa cepat dan besar alam semesta telah mengembang dari waktu ke waktu.

Dengan kecepatan ekspansi yang 8 persen lebih besar, perselisihan antara Planck dan konstanta Hubble sekarang menjadi lebih besar dari sebelumnya. Dan dengan munculnya penelitian ini, secara tidak langsung juga menjelaskan bahwa alam semesta akan berakhir lebih cepat dari yang kita perkirakan sebelumnya.

Dalam waktu beberapa milyar tahun ke depan, alam semesta akan menjadi amat besar, tetapi amat dingin dan sunyi. Kebalikan dari "dentuman besar" atau "big bang", pada akhir hidupnya, alam semesta mengalami apa yang disebut "robekan besar" atau "big rip", untuk menggambarkan tercerai berainya alam semesta yang kita kenal ini.

Galaksi-galaksi akan bergerak amat cepat, sehingga cahayanya tidak mampu bergerak melintasi alam semesta seperti yang dapat diamati sekarang. Dampaknya, langit akan terlihat gelap.