Definition List

header ads

Mampukah Ilmuwan Menciptakan Pesawat Luar Angkasa Yang Melebihi Kecepatan Cahaya?

"Captain on the bridge!" USS Enterprise sedang melaju dalam kecepatan warp. Kredit: 20TH Century Fox


Warp atau dikenal juga sebagai hyperscpae adalah sebuah kemampuan untuk melakukan perjalanan pada kecepatan yang lebih cepat daripada cahaya. Anda yang penggemar film Star Trek atau Star Wars mungkin tak asing dengan hal ini. Tapi akankah pesawat semacam USS Enterprise atau Millenium Falcon diciptakan?

"Jika Kapten Kirk hanya bisa bergerak dengan kecepatan roket tercepat yang manusia miliki saat ini, ia akan butuh ratusan ribu tahun lamanya hanya untuk mencapai ke sistem bintang terdekat," kata Seth Shostak, astronom dari Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) Institute di Mountain View, California. "Film fiksi ilmiah telah lama mempolsutatsikan cara untuk mengalahkan kecepatan cahaya sehingga cerita dapat bergerak sedikit lebih cepat."

Namun dalam kenyataannya, konsep kecepatan warp ini cukup rumit," kata Shostak. Konsep perjalanan dengan kecepatan warp selain dikenal sebagai hyperspace juga dikenal sebagai hyperdrive dan subspace. Namun kelangkaan penelitian dan pembahasan ilmiah tentang metode transportasi ini membuatnya lebih sering dianggap sebagai fiksi ilmiah belaka.

Dimensi Lain

Fisika menunjukkan bahwa jalan pintas untuk bergerak lebih jauh di luar angkasa adalah memanfaatkan worm hole (lubang cacing). Lubang cacing secara teori menghubungkan dua wilayah di alam semesta yang berjauhan menjadi berdekatan. Sebuah pesawat ruang angkasa secara teoritis bisa langsung pindah ke wilayah alam semesta yang jauh dari wilayah awalnya jika memasuki lubang cacing.

Tapi pertanyaannya adalah, dapatkah kita benar-benar menggunakan lubang cacing untuk transportasi?

"Lubang cacing pada dasarnya adalah dinding yang rapuh. Jadi, tidak akan ada yang bisa melewati lubang itu," kata astrofisikawan Kip Thorne, dari California Institute of Technology di Pasadena, California, seperti dilaporkan Dicovery News, Selasa, 25 November 2014.

Lubang cacing diyakini menghubungkan lubang hitam dengan lubang putih di ujung lainnya. Teori ini dikembangkan oleh Albert Einstein dan asistennya, Nathan Rosen, yang berupaya membuat satu model alam yang meliputi semua kekuatan semesta. Karena tu, beberapa ilmuwan menyebut lubang cacing dengan jembatan Einstein-Rosen.

Namun, meski lubang hitam memang ada, mustahil bagi seseorang untuk melewati ruang di dalamnya, yakni memasuki jembatan Einstein-Rosen. Sebab, benda apa pun yang masuk ke area itu akan dipisahkan oleh tarikan gravitasi ekstrem.

"Berada di daerah lubang cacing membutuhkan banyak antigravitasi, yaitu energi negatif. Energi ini telah dibuat di laboratorium dengan efek kuantum. Namun meminjam energi negatif di ruang yang tidak memiliki apa pun adalah hal mustahil. Jadi, tidak akan ada manusia yang bisa mendapatkan energi negatif yang cukup ke lubang cacing. Artinya, tidak ada orang yang bisa menyeberangi lubang cacing," tutur Thorne.

Bagaimana dengan Teleportasi?

Sebuah ide fiksi ilmiah lainnya adalah teleportasi, sebuah teknologi yang memungkinkan kita untuk mengirim atau menjemput seseorang dari satu lokasi ke lokasi lainnya di alam semesta. Teknologi ini ada pada film Star Trek, di mana pada film tersebut disebut transporter, sebuah teknologi yang mampu mendekonstruksi tubuh seseorang di suatu tempat dan merekonstruksinya kembali di tempat yang lain.

Ada beberapa dasar ilmiah untuk teleportasi, para ilmuwan telah menunjukkan bahwa partikel subatomik dapat dipindahkan dari satu titik ke titik lain lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Tetapi kemampuan untuk memecah partikel tubuh manusia dan membentuknya kembali secara utuh masih terlihat mustahil. Alih-alih berhasil merekonstruksi tubuh manusia yang sudah dipecah, tubuh manusia yang telah memakai teleportasi justru bisa saja tidak terbentuk secara utuh saat tiba di lokasi yang berbeda.

Warp Secara Ilmiah

Pada tahun 2013, sekelompok mahasiswa fisika mengoreksi pandangan apa yang akan terjadi ketika pesawat ruang angkasa terbang dengan kecepatan cahaya. Garis-garis bintang dan galaksi yang terlihat dari kaca pesawat ketika sedang melaju cepat dikatakan tidak akan benar-benar terjadi. Sebaliknya, pandangan akan tampak lebih seperti sebuah cahaya terang yang terpusat.

Perjalanan secepat cahaya akan menyebabkan cahaya bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang sesuai efek Doppler, yang juga menjelaskan mengapa suara dari klakson mobil sebelum dan sesudah melewati pengamat memiliki perbedaan.

Warp mungkin terasa melanggar teori relativitas khusus Einstein. Tapi relativitas khusus menyatakan bahwa Anda tak dapat melampaui kecepatan sinyal cahaya dalam perlombaan di mana Anda dan sinyal mengikuti rute yang sama.

Ketika ruang-waktu melengkung, itu memungkinkan Anda untuk mengalahkan sinyal cahaya dengan mengambil rute berbeda, sebuah jalan pintas. Kontraksi atau penyusutan ruang-waktu di depan gelembung dan perluasan atau pelebaran di belakang gelembung menghasilkan jalan pintas demikian.

Persoalannya adalah, diuraikan oleh Sergei V. Krasnikov dari Central Astronomical Observatory di Pulkovo, Rusia, interior gelembung lengkungan (warp bubble) terputus dari tepi depannya. Kapten kapal bintang di dalam gelembung tidak dapat menyetir gelembung atau menggerakkan atau menghentikannya; suatu perantara eksternal harus memulainya terlebih dahulu.

Untuk menghindari persoalan ini, Krasnikov mengajukan “superluminal subway”, pipa ruang-waktu yang dimodifikasi (tidak sama dengan lubang cacing) yang menghubungkan Bumi dan bintang. Di dalamnya, perjalanan superluminal ke satu arah dapat dilakukan. Selama perjalanan ke angkasa dengan kecepatan subcahaya tersebut, awak kapal antariksa menciptakan pipa demikian.

Saat pulang, para awak dapat melewatinya dengan kecepatan lengkungan. Seperti gelembung lengkungan, subway ini melibatkan energi negatif. Sejak saat itu telah ditunjukkan oleh Ken D. Olum dari Universitas Tufts, oleh Visser, bersama Bruce Bassett dari Oxford dan Stefano Liberati dari International School for Advanced Studies di Trieste, Italia, dan oleh Sijie Gao dan Robert M. Wald dari Universitas Chicago bahwa bahwa perjalanan lebih cepat daripada cahaya mensyaratkan energi negatif.