Definition List

header ads

Sanggupkah Teknologi Luar Angkasa Menjelajahi Sistem Bintang Alpha Centauri?

Alpha Centauri, sistem bintang terdekat Tata Surya kita .Kredit: wikipedia.org


Stephen Hawking, Yuri Milner dan Mark Zuckerberg telah mencetuskan inisiatif baru, Breakthrough Starshot, yang bisa digunakan untuk suatu hari nanti mencapai sistem bintang tetangga Tata Surya kita, Alpha Centauri, dalam perjalanan hanya 20 tahun. Mampukah hal tersebut dilakukan?

"Ini adalah Alpha Centauri, bintang tetangga kita," kata Yuri Milner, miliarder asal Rusia dalam konferensi pers pada 12 April 2016 di New York, AS. "Tapi dalam skala kosmis, tetangga bukan berarti sangat dekat. Alpha Centauri terletak pada jarak lebih dari 4 tahun cahaya, atau 37 triliun kilometer. Dan masalahnya adalah, teknologi perjalanan luar angkasa yang kita miliki masih tergolong lambat."

Milner mengatakan bahwa teknologi yang diusulkan yang bernama Breakthrough Starshot dapat merancang sebuah pesawat luar angkasa kecil atau lebih tepat disebut satelit kecil untuk diluncurkan ke sistem bintang Alpha Centauri dalam kecepatan 20 persen kecepatan cahaya. Tapi tetap saja, ini akan menjadi perjalanan yang panjang.

Sitem bintang Alpha Centauri, walaupun disebut tetangga Tata Surya kita, jaraknya sekitar 270.000 kali jarak dari Bumi ke Matahari. Agar perjalanan ke sana hanya butuh satu generasi, Milner mengatakan, roket yang kita gunakan saat ini bahan bakarnya perlu setara bahan bakar semua bintang di Bima Sakti. Namun tentu saja itu tidak mungkin, tapi Milner memiliki ide yang diklaim revolusioner.

Mengenal Alpha Centauri

Dari Bumi, Alpha Centauri muncul sebagai titik cahaya, ia merupakan sistem bintang yang terlihat bagai satu bintang utuh yang paling terang di langit selatan. Melalui teleskop, Anda akan melihat ada dua bintang besar, yakni Alpha Centauri A dan pendampingnya Alpha Centauri B. Masing-masing memiliki massa yang hampir sama dengan Matahari, dan mereka mengorbit satu sama lain pada jarak yang sama seperti Uranus mengorbit Matahari.

Alpha Centauri merupakan sistem tiga bintang, selain Alpha Centauri A dan B, masih ada Proxima Centauri, yang merupakan bintang katai merah yang sedikit lebih dekat ke Bumi. Proxima Centauri tak terlihat di langit malam karena terlalu redup dan kecil, massanya hanya 0,12 kali massa Matahari dan berukuran 1,5 kali ukuran Jupiter.

Para astronom pertama kali menyadari bintang terang Alpha Centauri merupakan sistem bintang biner--bintang yang saling mengorbit--pada tahun 1689, kala itu hanya diketahui adanya Alpha Centauri A dan B. Sementara Proxima Centauri baru pertama kali terlihat pada tahun 1915.

Pada tahun 2012, para astronom menggunakan alat yang disebut High Accuracy Radial velocity Planet Searcher (HARPS) berhasil mendeteksi sebuah planet yang mengorbit bintang Alpha Centauri B. Instrumen HARPS berhasil mengukur getaran kecil pada bintang yang mengindikasikan adanya planet yang mengorbit. Planet tersebut diperkirakan sedikit lebih besar dari Bumi, berevolusi setiap 3,24 hari.

Sejak saat itu, para astronom telah mencoba untuk memverifikasi keberadaan planet yang dinamai Alpha Centauri Bb menggunakan metode transit planet, sebuah metode yang mengamati peredupan sedikit pada cahaya bintang ketika sebuah planet lewat di depannya, namun bukti tambahan belum didapatkan hingga sekarang.

Misi yang Ambisius?

Walau begitu, sistem bintang Alpha Centauri sangat menjanjikan untuk mencari planet ekstrasurya, terutama menggunakan pencitraan langsung. Dan sistem bintang ini juga tampaknya menjadi tempat yang bagus untuk dikunjungi. Jaraknya mungkin terlalu jauh, tetapi dengan Breakthrough Starshot besutan Yuri Milner, Stephen Hawking dan Mark Zuckerberg mampu mengunjunginya.

Breakthrough Starshot melibatkan pengerahan kendaraan pendorong kecil dan ringan untuk membawa perlengkapan seperti kamera dan alat komunikasi. Para ilmuwan berharap satelit mini yang juga disebut nanocraft atau pesawat-nano itu pada akhirnya akan terbang seribu kali lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pesawat antariksa sekarang.

"Benda itu akan terlihat seperti telepon selular dengan layar seperti kasa yang ringan," kata Pete Worden, mantan direktur Ames Research Center Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang memimpin proyek itu.

Worden membayangkan mengirim pesawat antariksa konvensional lebih besar yang membawa ribuan nanocraft ke orbit, dan kemudian meluncurkan satu per satu nanocraft, katanya dalam sebuah wawancara. Worden juga telah menyadari tantangan-tantangan itu, termasuk mempertahankan keutuhan nanocraft saat peluncuran.

Satelit-satelit mini ini harus bertahan 20 tahun melakukan perjalanan melewati lingkungan ruang antarbintang, dengan hambatan seperti benturan debu. Jika satelit mini ini nantinya akan mencapai sistem bintang Alpha Centauri dan sukses mengambil foto, maka akan butuh waktu sekitar empat tahun lagi untuk mengirimkan data dan fotonya kembali ke Bumi.