Definition List

header ads

Fenomena Astronomi Di Bulan Januari 2017


1 Januari 2017: Komet 45P di Perihelion

Komet 45P/Honda-Mrkos-Pajdusakova akan mencapai titik atau jarak terdekat dengan Matahari, yang dalam astronomi disebut mencapai titik perihelion, pada 1 Januari 2017 ini. Diperkirakan, jarak antara komet 45P dengan Matahari hanya sejauh 0,53 AU, di mana 1 AU = 150 juta km.

Sayangnya, dari Indonesia, komet ini tidak akan bisa diamati. Sang komet akan mencapai titik tertinggi di langit pada siang hari di Indonesia, dan tidak akan lebih tinggi dari 18° di atas horizon barat pada saat senja. Bagi Anda yang ingin mengamatinya, jangan lupa gunakan teleskop karena komet ini masih di magnitudo +6.4.

2 Januari 2017: Konjungsi Planet Venus dengan Bulan

Planet Venus dan Bulan akan tampak bersebelahan di langit Bumi, dengan Venus dan Bulan yang keduanya hanya akan terpisah sejauh 1°54'. Bulan akan berusia 4 hari, dengan begitu ia masih dalam fase sabit muda.

Di Indonesia, kedua benda langit ini bakal terlihat ketika Matahari terbenam. Pada pukul 19:00 waktu setempat daerah Anda, Venus dan Bulan akan berada di ketinggian 33° di atas ufuk barat. Keduanya dapat diamati dengan mata telanjang, di mana Venus akan tampak bagai bintang terang di sebelah selatan Bulan.

Bulan akan bersinar dengan magnitudo -10,7, sementara Venus dengan magnitudo -5,0. Baik Venus maupun Bulan, keduanya akan bertengger di rasi bintang Akuarius:

3 Januari 2017: Konjungsi Planet Mars dengan Bulan

Setelah bermesraan dengan Venus pada hari sebelumnya, di tanggal 3 Januari 2017 giliran planet Mars yang akan tampak bersebelahan dengan Mars. Kedua benda langit ini akan terpisah sejauh 0°13' satu sama lain di langit Bumi, di mana Bulan akan berusia 5 hari.

Kita di Indonesia sudah bisa melihatnya pukul 19:00 waktu setempat, saat kedua benda langit ini berada di ketinggian 45° di atas ufuk barat. Pada saat konjungsi, Bulan akan bersinar dengan magnitudo -11,1, sementara Mars dengan magnitudo 0,5. Keduanya bisa diamati dengan mata telanjang maupun teleskop.

4 Januari 2017: Puncak Hujan Meteor Quadrantid

Hujan meteor Quadrantid bakal menjadi peristiwa hujan meteor pembuka tahun ini, dan akan mencapai tingkat maksimum dari aktivitasnya pada tanggal 4 Januari 2017. Walau begitu, meteor-meteor yang merupakan bagian dari Quadrantid bakal terlihat setiap malam dari 1 Januari sampai 6 Januari 2017.

Intensitas saat puncaknya diperkirakan 80 meteor per jam (ZHR), dengan asumsi langit lokasi pengamatan gelap gulita, cuaca cerah, dan bebas polusi cahaya. Bagi Anda yang mengamati di daerah perkotaan, mungkin tidak akan mendapatkan intensitas ini.

Titik radian hujan meteor ini adalah pada deklinasi +50°, dekat rasi bintang Bootes. Rasi bintang tersebut bakal terbit pada dini hari, dengan begitu pengamatan hujan meteor ini disarankan mulai dini hari hingga menjelang Matahari terbit. Bisa disaksikan di seluruh Indonesia.

4 Januari 2017: Bumi di Perihelion

Seperti yang telah kita pelajari sejak di bangku Sekolah Dasar, Bumi mengelilingi Matahari dalam jalur lintasan yang tidak lingkaran sempurna, melainkan agak lonjong atau disebut elips. Karena jalur orbitnya yang elips itulah yang membuat Bumi bisa mencapai perihelion, atau jarak terdekat dengan Matahari. Tahun ini, perihelion Bumi adalah 0,98 AU.

Sekadar informasi, jarak antara Bumi dengan Matahari bervariasi sekitar 3% selama setahun karena orbitnya yang elips. Secara teknis, ini menandai saat ketika Matahari tampak lebih besar di langit Bumi pada tahun 2017.

Perihelion ini tepatnya terjadi pada pukul 21:19 WIB, dan bukan penyebab suhu Bumi yang akan menjadi panas. Perubahan cuaca di Bumi kita disebabkan sepenuhnya oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi, bukan oleh perubahan jarak dari Matahari.

11 Januari 2017: Merkurius di Puncak Kecerlangannya

Inilah saat terbaik untuk mengamati Merkurius! Planet terdekat dengan Matahari ini akan tampak begitu terang, lebih terang dari biasanya, di langit timur saat fajar. Merkurius akan bersinar dengan magnitudo -2,2.

Sayangnya di Indonesia, Merkurius akan sedikit sulit untuk ditemukan karena berada tidak lebih tinggi dari 16° di atas horizon timur. Merkurius akan terbit pada 04:14 waktu setempat, atau 1 jam 34 menit sebelum Matahari terbit. Ia lalu mencapai ketinggian 16° di atas ufuk timur sebelum menghilang dari pandangan karena silau Matahari telah membirukan langit.

12 Januari 2017: Bulan Purnama

Bulan Purnama pertama tahun 2017 bakal muncul pada tanggal 12 Januari! Pada fase Purnama ini, Bulan akan terletak hampir tepat di seberang Matahari di langit Bumi, membuatnya terlihat mulai senja hingga fajar tiba keesokan harinya.

Dengan kata lain, pada 12 Januari 2017, Bulan akan terbit di timur ketika Matahari terbenam di barat. Lalu Bulan akan terbenam di barat ketika Matahari terbit di timur pada pagi harinya (13/1). Bulan Purnama akan terletak pada deklinasi +18°13' di rasi bintang Gemini, Jaraknya dari Bumi akan mencapai sekitar 366.000 km.

Bulan masuk fase Bulan Purnama tepatnya pukul 18:35 WIB.

12 Januari 2017: Venus di Sudut Elongasi Tertinggi

Selain Bulan Purnama, di tanggal ini merupakan saat terbaik untuk mengamati planet Venus alias Bintang Kejora. Planet kedua dari Matahari tersebut akan mencapai magnitudo -5,1. Sangat terang, benda langit paling terang ketiga setelah Matahari dan Bulan.

Kita sudah bisa menemukan Venus yang terang di langit arah barat mulai pukul 18:29 waktu setempat, ketika Venus berada di ketinggian 40° di atas ufuk barat daerah Anda. Karena Bumi berotasi, Venus akan bergerak semu tenggelam menuju cakrawala, sekitar pukul 21.15 waktu setempat.

Dalam mengelilingi Matahari, orbit Venus terletak lebih dekat ke Matahari dibanding Bumi, yang berarti membuat planet terpanas se-Tata Surya ini akan selalu muncul dekat dengan Matahari dan tidak pernah muncul sepanjang malam.

Setelah mencapai sudut elongasi tertinggi, planet Venus akan perlahan bergerak kembali ke langit timur dan muncul saat Subuh. Namun, hal tersebut butuh setidaknya tiga bulan. Kita akan tetap bisa melihat Venus di langit barat hingga Maret 2017.

24 Januari 2017: Konjungsi Planet Saturnus dengan Bulan

Inilah saat terbaik untuk menemukan Saturnus di langit, terlebih bagi Anda yang sulit membedakan mana bintang dan mana planet di langit. Sebab, pada 24 Januari, Bulan dan Saturnus akan tampak bersebelahan, keduanya hanya akan terpisah sejauh 3°36' satu sama lain.

Di Indonesia, pasangan benda langit ini akan terlihat di langit fajar, terbit sekitar pukul 02:58 waktu setempat, atau 2 jam 55 menit sebelum Matahari terbit. Lalu, keduanya bakal mencapai ketinggian 36° di atas ufuk timur sebelum memudar dari pandangan karena Matahari terbit pukul 05:38 waktu setempat.

Pada saat konjungsi ini, Bulan akan bersinar dengan magnitudo -10,3, dan Saturnus dengan magnitudo 0,3. Untuk melihat cincin Saturnus, kita butuh teleskop kecil. Dalam padangan mata telanjang, Saturnus hanya akan tampak sebagai bintang kuning terang di dekat Bulan.