Definition List

header ads

Fenomena Astronomi Di Bulan Juni 2017



1 Juni 2017: Fase Bulan Kuartal Awal

Di awal Juni, kita akan melihat Bulan yang masuk fase kuartal awal. Dengan kata lain, Bulan akan tampak separuh saja dari permukaan Bumi karena sudut elongasinya sekitar 90 derajat dari Matahari. Ini juga menandai hari ketujuh Ramadan 1438 H.

Dari langit Indonesia, Bulan separuh akan terlihat mulai sekitar pukul 17.57 waktu setempat daerah masing-masing, yakni ketika ia berada pada ketinggian 75° dari cakrawala utara. Kemudian Bulan akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 18.03 waktu setempat. Bulan separuh bisa terus diamati sampai sekitar pukul 23.27 waktu setempat ketika ia tenggelam ke 7° di atas cakrawala barat.

3 Juni 2017: Venus Mencapai Sudut Elongasi Tertinggi

Venus merupakan planet inferior atau planet dalam, sehingga ia takkan pernah bisa muncul di langit malam (terbit saat tengah malam atau sebelum tengah malam). Ia hanya bisa muncul saat senja ataupun beberapa jam sebelum Matahari terbit.

Orbit Venus yang terletak lebih dekat ke Matahari daripada Bumi membuat ia selalu tampak dekat dengan Matahari di langit Bumi kita. Momen sudut elongasi tertinggi inilah merupakan saat yang cocok untuk melihat Venus dalam waktu yang lumayan lama.

Pada kesempatan ini, Venus bakal sangat terang dan mencolok sehingga menjadi objek terang ketiga di langit setelah Matahari dan Bulan.

Planet kedua dari Matahari ini bakal bersinar terang pada magnitudo -4.3. Terbit sekitar 3 jam 8 menit sebelum Matahari terbit, Venus akan mencapai ketinggian 41° dari atas cakrawala timur sebelum memudar dari pandangan saat fajar menyingsing sekitar pukul 05.42 waktu setempat.

4 Juni 2017: Konjungsi Bulan dengan Planet Jupiter

Mulai tengah malam 4 Juni hingga buka puasa di tanggal yang sama, kita bakal menyaksikan Bulan yang berkonjungsi atau berdekatan dengan planet Jupiter, planet raksasa gas terbesar di Tata Surya kita.

Untuk mengamatinya cukup mudah. Pertama, Anda harus menemukan Bulan dulu. Pada kesempatan ini, Bulan sudah berusia 10-11 hari sehingga berada dalam fase bungkuk atau cembung. Di langit tengah malam 4 Juni 2017, Bulan dan Jupiter berada di langit barat dan siap terbenam.

Namun, pada sore hari menjelang malamnya, Anda bisa kembali melihat kedua benda langit ini di langit atas kepala, sekitar 61° dari cakrawala timur. Bulan akan bersinar terang dengan magnitudo -12,2 dan Jupiter dengan magnitudo -2,2, keduanya berada di rasi bintang Virgo.

Dalam pandangan mata telanjang, Jupiter hanya akan tampak bagai bintang kuning terang di dekat Bulan saja. Anda butuh teleskop untuk bisa melihat Jupiter lebih jelas lengkap dengan empat satelit alami terbesarnya dan garis-garis atmosfer di permukaannya.

9 Juni 2017: Minimoon

Seperti kebalikan dari Supermoon, Minimoon merupakan kenampakan Bulan Purnama yang terkecil dalam setahun. Dengan kata lain, Bulan Purnama pada 9 Juni 2017 nanti akan menjadi Bulan Purnama terkecil pada tahun 2017 ini.

Dalam beredar mengelilingi Bumi, Bulan melintasi jalur orbit yang tidak melingkar sempurna, melainkan cenderung berbentuk elips. Hal ini membuat Bulan bisa berada di titik terdekat (yang disebut perige) maupun di titik terjauh (apoge).

Minimoon hanyalah istilah yang digunakan untuk menyebut Bulan Purnama di titik apoge. Sebab pada tanggal 9 Juni 2017, jarak antara Bumi dan Bulan diperkirakan mencapai 406.000 kilometer, sehingga Bulan akan tampak 14 persen lebih kecil dari fase-fase Bulan Purnama lainnya tahun ini.

Diameter sudut Bulan Purnama pada 9 Juni 2017 diperkirakan mencapai 29'23". Untuk mengamatinya, carilah Bulan Purnama di langit timur selepas Matahari terbenam. Bulan akan terus bergerak semu ke barat dan mencapai titik tertinggi di langit sekitar tengah malam.

Pengamatan Minimoon bisa dilakukan dengan atau tanpa teleskop di seluruh Indonesia selama cuaca cerah.

15 Juni 2017: Oposisi Saturnus

Pada tanggal ini, Saturnus akan mencapai titik oposisinya. Atau dengan kata lain, Matahari-Bumi-Saturnus akan berada satu garis lurus di bidang edar Tata Surya. Peristiwa ini membuat Saturnus berada di jarak terdekatnya dengan Bumi sehingga akan tampak sangat terang dan sangat jelas bila diamati lewat teleskop.

Oposisi planet Saturnus terhadap Matahari tahun ini terjadi pada tanggal 15 Juni 2017 pukul 17.00 WIB. Pada saat oposisi, kita dapat melihat Saturnus terbit di ufuk timur berbarengan saat Matahari terbenam di ufuk barat.

Dengan begitu, Saturnus akan terlihat sepanjang malam. Dalam pandangan mata telanjang, Anda akan melihat Saturnus bagaikan bintik terang yang tidak berkelap-kelip di rasi bintang Ofiukus. Anda butuh teleskop untuk dapat melihat Saturnus lengkap dengan cincinnya yang megah.

Dari langit Indonesia, Saturnus akan terlihat mulai pukul 18.24 waktu setempat, saat ia berada di ketinggian 9° dari cakrawala timur. Kemudian ia bakal mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 23.51 waktu setempat, sekitar 74° dari cakrawala selatan. Saturnus bisa terus diamati hingga keesokan hari sekitar pukul 05.21 waktu setempat, ketika ia tenggelam ke bawah 10° dari cakrawala barat.

Meskipun Saturnus dikatakan berada pada jarak paling dekat dengan Bumi untuk tahun ini di tanggal 15 Juni 2017, pada kenyataannya "jarak paling dekat" tersebut hanyalah dalam skala kosmis, yang sebenarnya masih sangat jauh. Pada saat oposisi, Saturnus akan terletak sekitar 10 kali jarak Bumi dari Matahari.

17 Juni 2017: Fase Bulan Kuartal Akhir

Inilah momen sepekan terakhir menuju Idulfitri: Bulan sudah masuk fase kuartal akhir. Tepat sekitar 3 minggu setelah hilal, bagian permukaan Bulan akan tampak separuh kembali (setengah lingkaran). Namun, bagian yang tampak dari Bumi ini arahnya kebalikan dari kuartal pertama.

Fase yang demikian ini dinamakan kuartal akhir atau kuartal ketiga. Pada fase ini, Bulan terbit lebih awal sekitar 6 jam daripada Matahari. Ini berarti Bulan terbit di sebelah timur pada sekitar pukul 00.00 (tengah malam), tepat berada di tengah langit kita pada sekitar Matahari terbit, dan tenggelam di ufuk barat pada sekitar tengah hari (jam 12.00).

21 Juni 2017: Solstis Musim Panas

Hello, summer! Oh, wait. Kita tinggal di Indonesia. Bagi Anda yang belum tahu, solstis kadang disebut juga sebagai titik balik Matahari. Peristiwa ini terjadi saat Matahari berada pada titik terjauh di utara maupun di selatan dari khatulistiwa. Pada titik balik Matahari 21 Juni ini, Matahari akan mencapai titik paling utara dan Kutub Utara Bumi akan miring langsung ke arah Matahari sekitar 23,4 derajat.

Apa dampaknya? Di Indonesia, hampir tak berdampak sama sekali. Matahari hanya akan tampak terbit tidak tepat di timur, melainkan sedikit ke timur laut. Peristiwa ini pun semacam menandai awal musim panas (musim kemarau di Indonesia).

Meskipun kebanyakan orang menganggap 21 Juni sebagai tanggal titik balik Matahari Juni, sebenarnya solstis dapat terjadi kapan saja antara 20 Juni hingga 22 Juni, tergantung pada zona waktu masing-masing tempat. Namun, solstis pada 22 Juni jarang terjadi, dan terakhir kali solstis 22 Juni terjadi adalah pada 1975 dan tidak akan ada yang lain lagi sampai tahun 2203.

Tanggal solstis yang bervariasi ini disebabkan oleh sistem kalender Gregorian yang memiliki 365 hari dalam tahun normal dan 366 hari dalam tahun kabisat. Gerakan rotasi orbital dan rotasi Bumi, seperti "goyangan" di sumbu Bumi (presesi ekuinoks), juga berkontribusi pada perubahan tanggal pada solstis setiap tahunnya.

24 Juni 2017: Fase Bulan Baru

Pada tanggal ini, Bulan memasuki fase Bulan Baru. Fase ini terjadi ketika Bulan berkonjungsi dengan Matahari, atau sudut elongasinya terhadap Matahari adalah nol derajat. Dengan begitu, Bulan takkan terlihat di langit Bumi.

Fase Bulan Baru 24 Juni 2017 akan terjadi pada pukul 09.32 WIB. Biasanya, beberapa jam setelah fase Bulan Baru, hilal atau Bulan sabit muda akan tampak, sehingga bisa ditetapkan 1 Syawal 1438 H yang merupakan Idulfitri bagi umat Muslim.